Kamis, 18 Juni 2009

Rumah yang Terabaikan

Sekian waktu berlalu. Sebuah perjalanan yang membuat aku mengabaikanmu. Rumahku, maafkan aku...., sepenggal tahun 2008 yang penuh perjuangan. Menyelesaikan yang semestinya diselesaikan. Menentukan arah perjalanan masa depan. Membuat keputusan yang semestinya diputuskan. Melewati ombak kehidupan. Sebuah perjuangan menegakkan eksistensi diri. Terjebak dalam psikosomatis yang sempat memperdayaku dalam kamar gelap. Self healing.....!
Hingga berdiri digaris kehidupan yang sekarang diberikan Tuhan. Sebuah penerimaan tulus kupersembahkan pada Sang Pemilik Hidup. Dan aku ingin kembali pulang. Menghiasi rumahku yang selama ini terabaikan. Penjaga keseimbangan dalam langkah-langkah menuju masa depan. Selalu tersimpan rahasia indah yang diberikan-Nya padaku.
Izinkan aku pulang. Aku ingin kembali pulang.

Sabtu, 02 Agustus 2008

Sketsa Sindoro-Sumbing

Aku berada dihamparan lukisan indah dalam kanvas keabadian sang Pencipta. Kabut tiba-tiba datang diantara percintaanku dengan Sindoro-Sumbing. Menutup wajah yang telah bertopeng. Apakah aku masih mengenalmu? Engkau menyapaku melalui desau angin yang keras memanggil. Kupalingkan wajahku, namun yang kutemui topeng itu lagi. Kuputar bola mataku, dan kucari-cari dirimu. Yang terdengar hanya suara itu, sesaat datang dan menghilang.

Tak lagi kutemui dirimu disana. Topeng itu telah menutupmu. Memisahkanmu dariku. Yang kulihat hanyalah hamparan tembakau yang menjanjikan rupiah dalam panen bulan Agustus nanti. Pak Tani tersenyum puas melihat bakal panen melimpah. Menunggu tengkulak datang dan berhitung keuntungan. Terbayang motor baru impian dalam genggaman. Belum hilang senyum mengembang, menghisap rokok bercampur kemenyan.

Kulihat anak kecil menengadahkan wajah yang memerah. Dihadapannya setumpuk kayu bakar selesai dibelah. Tangannya menggenggam lintingan yang telah dibakar. Asap mengepul dari balik bibir hitamnya. Memuaskan paru-paru dengan knalpot tembakau itu. Tanpa suara, anak kecil itu terus menikmatinya.

Aku tak melihatmu lagi. Kemana engkau pergi? Integritas ternyata bukan pencinta gemericik air atau gesekan pepohonan. Tanah luas pun membentang hingga ujung Sindoro Sumbing. Disulapnya menjadi rupiah. Air sungai mengering dimusim hujan yang baru usai, meninggalkan air mata di pipiku. Kemana engkau telah pergi? Yang tertinggal hanyalah onggokan daging dengan nurani terbuang.

Written by SintesaFiles, 2007.

Senin, 16 Juni 2008

KOPITARIUS

Aku adalah orang yang keras hati, tapi tak semua orang mau mengerti! Itulah bukti keegoisan hatiku! Satu hal yang sering kurenungkan dalam hati, bahwa ternyata tak semua orang berpikiran sama denganku. Inilah individual differences! Sulit belajar memaklumi keterbatasan orang lain sekaligus menyadari kekurangan diri sendiri. Apakah selama ini aku masih terlalu berkutat dengan keakuan-ku? Kalau aku disebut orang yang keras hati, mungkin benar demikian adanya, setidaknya bagi sebagian orang yang berada dilingkungan dekatku kurasa akan mengangguk setuju. Sulit meluluhkan hatiku tanpa melalui adu kekuatan argumentasi. Hingga tadi pagi, ada dua orang itu mengungkapkan kalimat yang sama padaku, “Kamu harus meninggalkannya! Kamu harus menjauhinya!”

Gubrak!!! Dunia serasa berhenti berputar membawa detik berhenti, langit terasa semakin dekat diatas kepalaku, perlahan namun pasti akan runtuh dan menguburku dalam puing-puing retak sebagai arwah penasaran yang akan menggerayangi mimpi-mimpi malam mereka. Bayangan salah satu serial televisi tentang pemburu hantu dan arwah penasaran beredar dipelupuk mataku. Masak sih, aku harus seperti itu? Rugi amat! Hidup terlalu singkat untuk lebih dipersingkat. Tapi, ultimatum itu kembali berdengung memenuhi gendang telingaku.

Selama ini rasanya tak ada pasangan yang memiliki kesetiaan seperti aku dan dia. Terlahir dalam naungan rasi bintang Taurus memberiku sugesti kesetiaan dan kekerasan hati yang selama ini telah kulakoni. Ketika ultimatum Bapak laksana sabda pandhita ratu, aku harus meninggalkannya! Ups…tunggu dulu, aku telah belasan tahun bersamanya menikmati pahit getirnya hidup. Suka duka yang telah kami lalui bersama, tak semudah itu dihapus begitu saja dengan kalimat perintah itu. Gelora rasa itu telah menggelayut kedalam sukmaku, mengaliri aliran darahku hingga menghidupi detak nadiku. Aku tak ingin tercerabut dari sisinya. Pun aku tak sudi melepaskan dirinya. Aku telah terbiasa bersanding dengannya, menemani malam-malamku yang panjang hingga pagi menjelang. Membukakan mataku saat hari baru datang. Dia telah menjadi sumber inspirasiku. Pencerahan bagi jiwaku yang kadang layu. Dalam gembira maupun sedihku, dia tetap setia disampingku.

Reading is the most dangerous game. Buku itu ibarat primbon bagi sebagian orang yang membacanya. Sedikit menyesal, mengapa kupilih buku itu sebagai hadiah ulang tahun Bapak kemarin. Aku kena getahnya, karena tulisan dalam buku itulah yang menghipnotis Bapak hingga akhirnya mengeluarkan ultimatum itu. Buku itu telah menjadi dasar acuan teoritik Bapak dalam argumennya. Kata-kata yang tertulis didalamnya ibarat ramuan mujarab yang diyakini khasiatnya. Hasil rekayasa sang Profesor Adamo yang telah menjadi panutan jutaan orang didunia itu! Hingga primbon itu juga menyatakan jika aku dan dia bukanlah pasangan sejati! Bahkan disebutkan bahwa jika ditilik dari segi genetika, golongan darah warisan pemburu purba yang kumiliki sama sekali tidak memiliki kecocokan dengannya. Ketidaksesuaian genetika itu akan menghancurkanmu, karena dia ibarat racun yang akan menggerogoti jiwamu juga tubuhmu. Jangan kamu paksakan! Kamu tak bisa bersanding dengannya.

Bapak memperoleh dukungan! Pagi tadi, kami bertemu Dokter Yahya, dokter tua yang menjadi langganan konsultasi Bapak setiap bulannya. Bodohnya, aku menuruti kehendak Bapak menemui dokter itu tadi pagi. Pertemuan itu menjadi konspirasi yang menghasilkan ultimatum lebih kuat, aku harus meninggalkannya. Kenapa kekuatan rasi bintang yang selama ini menaungiku seakan-akan berpaling, dan pergi meninggalkanku begitu saja. Aku hanya bisa terdiam dihadapan mereka, meski dalam hati aku berontak, tak sudi memenuhi keinginan mereka, tapi lidahku kelu untuk menyampaikan maksud hatiku.

Terus aku harus bagaimana? Eksistensiku sebagai orang yang angkuh menjadi terganggu. Selama ini aku begitu damai bersamanya hingga seminggu yang lalu, aku pingsan dalam perjalanan pulang seusai mengikuti sebuah acara seminar. Kubilang bahwa saat itu aku hanya kelelahan, namun Bapak tetap memintaku melakukan medical check up. Aku mengikuti kemauan Bapak hanya sekedar untuk menenangkan hatinya. Namun, hasil medical check up itulah yang menjadi titik tolak keyakinan Bapak untuk memisahkan aku dengannya. Namun, perasaanku mengatakan aku belum mampu menghilangkannya dari sisiku. Berpisah darinya seakan-akan membawaku berada dititik nadir kehidupan. Merayap dalam gelap. Berenang dalam samudera tanpa batas hingga akhirnya tenggelam. Lenyap.

Tidak! Hanya aku yang berhak menentukan kompromi atas diriku, karena aku adalah tuan bagi diriku sendiri. Perintah itu kuanggap bukan sebagai titah yang harus kupenuhi, meskipun ku tahu semua itu mereka lakukan karena cintanya padaku. Tapi aku juga punya cinta, meski tak pernah sekalipun mereka bertanya. Mereka juga berperilaku egois terhadapku. Jangan kalian jauhkan aku darinya! Berikan padaku waktu untuk mencecapkan rasa cintaku padanya. Menghirup aroma wanginya dan menikmati pahit manisnya rasa. Aku tak bisa meninggalkannya. Setidaknya hingga saat ini, aku belum bisa untuk tidak bersamanya. Secangkir kopi selalu menemaniku dalam menyelami pencarian inspirasi. Bubuk hitam itu memang telah menghipnotisku. Sikap bunglon-nya mampu menghapus kerinduanku, kadang dia bisa bergaya maskulin ala espresso atau bergaya feminin ala cappucinno, dalam balutan aroma Robusta maupun Arabica dengan racikan Toraja, Aceh, Amerika maupun Italia, semuanya mampu membawa rasaku terbang. Memenuhi janji-janji menjemput inspirasi yang masih terbang melayang maupun yang masih jauh terpendam.

Rasi bintangku pun telah berubah, aku bukan lagi seorang Taurus dan aku tak peduli dengan ahli astronomi yang telah mengumumkan adanya rasi bintang baru apapun itu, karena aku telah terlahir kembali dalam naungan rasi bintangku sendiri, Kopitarius. Sebagai pencinta sejati kopi maka wajarlah jika aku betah berlama-lama menghirup aroma wanginya, hingga kemudian cairan hitam itu mengaliri rangkaian pencernaanku. Maafkan anakmu ini, Bapak….. Maafkan aku ya, Dok….

Written by SintesaFiles 2008

Rabu, 21 Mei 2008

Berita dari Bontang (2)

Seminggu pertama dalam hutan ini telah terlewati, hidup di belantara Kalimantan dengan berbagai fasilitas yang tersedia untuk meredam segala kepenatan dan kebosanan. Dua hari pertama, aku tinggal sendiri dalam rumah yang diperuntukkan bagi staf perempuan, ternyata aku datang pada saat yang kurang tepat karena setiap akhir pekan mereka turun ke kota, pulang ke tempat sanak saudara atau sahabat di daerah sekitar Bontang dan Samarinda. Alhasil, jadilah aku penghuni satu-satunya di rumah kayu itu. Untung ada laptop dan ponsel, yang menyelamatkanku dari rasa sepi. Urusan tagihan telpon bulan depan yang pasti akan melonjak tak kupikirkan dulu sekarang ini. Gedebak-gedebuk suara monyet yang berlarian diatap rumah menemani sepiku.

Berbagai fasilitas yang disediakan bagi seluruh penghuni kompleks ini terbilang lumayan, ada kantin yang menyediakan makan-minum dari breakfast, lunch hingga dinner, lapangan bulutangkis, fasilitas fitness, hingga jaringan wi-fi yang sayangnnya aku gak bisa akses karena dihadang oleh proxy, terpaksa memaksimalkan fungsi ponsel meski harus siap-siap tekor dalam tagihan bulan depan (hahahaha….jadi inget waktu perjalanan Jawa-Bali akhir tahun lalu). Rumah yang disediakan berdinding kayu yang dicat warna hijau muda, berbeda dengan rumah-rumah lain yang berwarna coklat kayu yang terlihat lebih eksotik. Ada lima kamar dengan masing-masing kamar tersedia fasilitas tidur bagi dua orang. Jaringan televisi berlangganan juga hadir meski cuma ada dua channel diluar televisi nasional yang bisa diakses. Ehm….ada satu lagi yang keren, makhluk bernama biawak yang gedhe banget ada di kolong rumah ini. Pernah satu sore, sepulang dari office, sang biawak lagi santai didekat tangga rumah, kemudian berjalan perlahan seperti komodo meninggalkan tangga itu begitu melihat kami turun dari bis karyawan. Hmm….jadi inget waktu rafting di Citarik, pas diceburin dan terpaksa harus berenang didekat biawak yang kurasakan saat itu sudah termasuk gedhe, eh sekarang itu mah lewat……

Jauh disini, aku begitu merasakan arti hadirnya orang-orang yang menyayangi dan kusayangi…… (maafkan bila aku sering berlarut dalam kecuekan-ku). Meski disini aku juga menemukan teman-teman baru yang baik dan sangat membantuku dalam pengumpulan data untuk menyelesaikan tesisku. Bertemu berbagai orang dengan kultur yang berbeda, kembali membawaku dalam penyesuaian, bagaimana dengan Mars yang lagi berjalan di bumi Italiano sana ya? Yang pasti, aku ingin segera pengambilan data ini selesai, kembali pulang ke Jogja. Memberikan pelukan rindu bagi orang-orang terkasih.

Dalam sekali perjalanan ke desa yang berada di lingkar tambang, kembali kutemukan bahwa masyarakat sangat sensitif dengan berbagai isu. Konflik kepentingan antar kelompok dalam masyarakat ternyata juga menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Kemiskinan itu terlihat nyata, rumah kayu, penghasilan tak tentu, aku terperangah ketika mereka dapat bertahan hidup dengan penghasilan 300rb sebulan untuk sekeluarga. Padahal biaya hidup di daerah ini jauh lebih mahal dibandingkan Jawa?!?

Saat itu hari menjelang malam, ketika sebuah sms masuk ke ponselku, sebuah berita duka, seorang teman berpulang padaNya. Semua menjadi misteri Allah, ketika usia pengembaraan didunia dinyatakan telah usai. Masih kuingat raut wajah temanku itu, saat kita akan melakukan perjalanan bersama ke Legundi, sebuah desa kering di selatan Jogja. Sudahlah!

Satu lagi momen istimewa kulewati ditengah belantara ini, pertama kali kurasakan melewati momen ini jauh dari siapapun orang-orang terdekatku. Menjadi sebuah perenungan……..aku tak mau hidup yang jauh dari orang-orang tersayang.

Senin, 28 April 2008

Berita dari Bontang (1)

Pagi yang basah menyambutku di Balikpapan, penerbangan dari Jakarta terasa cukup menyenangkan, lamunanku terbang seiring perjalanan diatas awan. Pesawat GIA-510, aku berada di nomor kursi 16F, membuat mataku bebas terbang berjuang melawan paranoid-ku atas ketinggian. Pukul 9.20 saat aku tiba di Balikpapan pagi itu. Perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil Kijang Innova, menembus hutan Kalimantan menuju Bontang, kota yang menjadi tujuan perjalananku ini. Berbagai agenda personal yang dibawa teman seperjalanan membuat laju kendaraan tersendat, dan harus berhenti di beberapa tempat, dari pada doing nothing, aku sempat mampir di Sport Station, lumayanlah ada snakers vintage yang pas di kantong karena sepatu boot kesayanganku tertinggal di Jakarta.

Melewati Bukit Suharto, menyeberangi Sungai Mahakam yang disampingnya sedang dibangun sebuah masjid yang luar biasa indah dimataku, deretan container di pinggiran dermaga, melintasi kebun raya Samarinda, dilanjutkan menembus hutan Gunung Simenangis, rasa kantuk dan suara kaset yang diputar sepanjang perjalanan membuatku ingin memejamkan mata meskipun sebenarnya aku ingin sekali menikmati perjalanan ini. Mana hutan tropis Kalimantan yang menjadi jantung oksigen dunia itu? Dari kejauhan kulihat blok-blok coklat pembukaan lahan, entah oleh petani, industri atau pelaku illegal logging, sementara di sepanjang perjalanan sering sekali bertemu dengan kendaraan-kendaraan berat yang entah dari mana.

Perjalanan tersendat, hingga malam telah datang saat aku tiba di kota Bontang, sebuah kota kecil dengan lalu lalang berbagai kendaraan Eropa dan Amerika. Pagi harinya baru kusadari jarang sekali terdapat angkutan umum di kota ini, sepertinya penduduk kota ini begitu makmur dengan limpahan hasil alam didalamnya. Benarkah demikian? Atau hanya asumsiku semata dari first impression? Aku belum tahu. Perjalanan terasa sangat melelahkan, punggungku terasa pegal memanggul back-pack berisi laptop dan berkas-berkas agenda kegiatanku. Perjalanan jauh yang kulakukan sendiri, bermodalkan nekat dan semangat. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Terngiang juga kata-kata Arai, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu". Aku telah membuktikannya. Namun mimpi tanpa usaha, perjuangan, pengorbanan dan keberuntungan adalah omong kosong. Aku menginap sehari dua malam di hotel kecil di kota Bontang, sebuah hotel yang bersih dan cukup nyaman, meski kotanya sendiri terasa kering dan muram. Sedikit berputar di kota ini saat mencari Kapurung untuk makan siang. Kapurung merupakan masakan khas Paloppo, yang terbuat dari campuran ikan, sagu dan sayuran, lumayan enak dan terasa sangat mengenyangkan. Porsinya terlalu besar buat mengisi lambungku. Kembali ke hotel, aku menyiapkan agenda kegiatan yang terpaksa harus bergeser. Aku tidak bisa mengontrol faktor-faktor eksternal yang menghadangku di lapangan.

Keesokan harinya, rasa penatku sudah jauh berkurang. Badan terasa lebih segar, pemberitahuan selalu datang dalam hitungan menit ke menit. Aku harus segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke tengah belantara Kalimantan. Welcome to the jungle! Is it really jungle? Bayangan-bayangan cerita teman-teman yang membekaliku dari Jakarta berkelebatan dalam kepalaku. Finally, I have to do it! Perjalanan kulalui dengan melewati beberapa pos penjagaan, kanan-kiri terdapat pohon-pohon dan semak belukar, dan bertemu dengan truk-truk besar yang penuh muatan. Negeri ini dianugerahi Tuhan dengan kekayaan yang sangat besar, namun mengapa banyak rakyat kelaparan? Kemiskinan menjerat rakyat dalam berbagai kesulitan hidup, kemana kekayaan negeri ini melayang? Untuk siapa? Kepalaku dihujani berbagai pertanyaan yang belum bisa kutemukan jawaban empiriknya, karena yang kutemukan jawaban yang masih berupa gosip jalanan.

Akhirnya aku sampai ditempat tujuan, tempat hidupku selama sebulan kedepan. Berbagai prosedur dan standar keselamatan telah dijelaskan secara singkat padaku. Welcome to the jungle! Namun kembali aku menemukan batasan dunia secara demografis semakin menipis, karena di tengah hutan ini aku tetap dapat berhubungan secara virtual dengan dunia luar, meskipun sekelilingku terdapat rimba raya dengan beraneka binatang yang dihidupinya. Negeri ini sangat kaya, bagaimana dengan rakyatnya? Aku akan mencari jawaban empirisnya!

Written by SintesaFiles, 26 April 2008

Kamis, 10 April 2008

Just a little bit pressure on this month......wish me luck to walk into new sphere
Only me...n finally, its all depend on myself. If I'm afraid, i could run away but where's my responsibility? I just say, I CAN DO IT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kamis, 13 Maret 2008

Hingga Tiba Saatnya

Tenggelam dalam rengkuhan sang bulan
Senja bergerak mengayunkan malam
Jelang fajar datang, embun menetes perlahan
Meresap masuk dalam celah-celah bongkahan tanah retak
Memberikan kesejukan pada dahaga yang tak kunjung hilang
Mentari tersenyum menyambut
Berjalan menemani langkah
Hingga tiba saatnya senja datang
Kembali mentari terbang
Akankah kembali pulang?