Postingan

Hingga Tiba Saatnya

Tenggelam dalam rengkuhan sang bulan Senja bergerak mengayunkan malam Jelang fajar datang, embun menetes perlahan Meresap masuk dalam celah-celah bongkahan tanah retak Memberikan kesejukan pada dahaga yang tak kunjung hilang Mentari tersenyum menyambut Berjalan menemani langkah Hingga tiba saatnya senja datang Kembali mentari terbang Akankah kembali pulang?

Legundi

Gambar
Noktah hitam itu hampir tak terlihat dalam peta negeriku tercinta. Meski tak terlalu jauh jaraknya dari mereka yang mengaku sebagai pengemban peradaban dunia. Atau mungkin aku yang telah buta sekaligus tuli terkubur dalam tembok tinggi, tertimbun buku-buku tebal dan jurnal-jurnal yang serasa makin meracuniku dengan nafsu bertopengkan ilmu. Jarak sepelemparan batu dalam langkah-langkah hidupku, kutemukan teritori itu, hitam, keras dan panas. Sepenggal tanya merasuk dalam kepalaku, apakah ini sebuah episode hidup lain dari antah berantah yang biasa kubaca dalam artikel-artikel dunia maya? Senja itu datang, bergelayut muram dihadapanku. Bayang-bayang muram tersaji didepan mataku. Petak-petak kecil itu mengaku sebagai pintu penjemput untuk memasuki gerbang hidup kekal. Seperti anak kecil yang berbaris rapi, berderet menunggu pengadilan sejati. Lansekap hitam masuk, berjejalan, merasuk, berebut pijak dalam kornea mataku. Permadani hitam terhampar, sebatang pohon kecil berjuang untuk tumbuh ...

Sabang: Romantisme di Ujung Barat Indonesia

……berlayarlah di atasnya; berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerak-gerakkan bunga-bunga padma; berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya..... (Sapardi Djoko Damono) Bait diatas merupakan ungkapan kata yang menggambarkan perjalanan melintasi lautan menuju Sabang, sebuah kota terbesar di Pulau Weh. Pulau Weh merupakan pulau kecil di Laut Andaman, tepatnya arah barat laut pulau Sumatera. Pulau vulkanik aktif ini awalnya merupakan kesatuan dengan pulau Sumatera, namun akhirnya terpisah setelah erupsi terakhir pada zaman Plelistocene . Pulau Weh terkenal dengan keunikan ekosistemnya sehingga pada tahun 1982 ditetapkan sebagai salah satu kawasan cagar alam. Beberapa populasi khas daerah ini adalah hiu megamouth (mulut besar) dan katak Bufo valhallae yang terancam punah. Pulau ini secara geografis memiliki kontur bergunung-gunung, dengan luas wilayah 6000 hektar yang terdiri dari 3400 hektar daratan dan 2600 hektar lautan. Terdapat empat gugus kepulauan kecil yang mengelili...

Selamat Tahun Baru 2008

Selamat Tahun Baru 2008 Temukan kepingan-kepingan mozaik itu dan rangkaikanlah dengan mozaik-mozaik yang telah ada dalam genggamanmu. Pastikan bahagia akan tercipta, karena bahagia itu selalu hadir dalam hatimu dan menemani setiap pijak langkamu. Selamat Tahun Baru, Embun!!!!

Sang Waktu

Rumah pasir tepian pantai, kubangun pelan dengan tetesan peluh hingga debur ombak datang menerjangnya, luluh kembali menjadi hamparan pasir datar. Tersenyum engkau disampingku, datang menghampiri dan kau hapus peluhku pelan. Apakah engkau tak letih, Embun? Ucapmu sesaat padaku. Ah, bahkan aku sendiri terlalu angkuh untuk berkata iya, dan menyandarkan bahu letihku padamu. Aku telah belajar menggali sumur terdalam dihatiku, memasukkan segala peluh dan keluhku kedalamnya. Aku hanya sepenggal noktah kecil bernama kehidupan yang digenggamkan Tuhan kepadaku. Dan aku terus menapakkan langkah kaki selama tak ada tangan yang menggenggamku. Mengapa ada kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan? Siapa sejatinya yang paling setia menemani sang waktu? Apakah waktu itu benar-benar ada dan nyata? Ataukah sang waktu hanya sebuah simbol hasil konsensus masa Romawi Kuno? Untuk apa waktu dibuat jika hanya untuk meninggalkan. Untuk apa waktu dibuat jika hanya untuk memisahkan. Jangan lupa, Embun! Jangan ...

IRONI UNCCC 2007

Perjalanan melintas jarak, ruang dan waktu Bersandar aku disini Menapakkan pijak rapuhnya, sesaat aku bertanya, negeri ini milik siapa? Gelak tawa anak-anak itu menenggelamkanku Bergandengan tangan bersama bercerita Tentang bumi yang tak lagi ramah Sementara di ujung sana Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya berbicara Hanya sebatas meja! Sebenarnya negeri ini milik siapa? Ketika kuayunkan langkahku kesana Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya malah sibuk berbelanja Atau memanjakan diri di spa Sebenarnya negeri ini milik siapa? Saat rakyatnya tak lagi bebas berkelana Saat yang tak berpunya tersingkir dari kasat mata Saat anak-anak tak bisa belajar dengan merdeka

Tiga Dermaga

Tiga dermaga tepian kanal Deretan kapal berlabuh pelan Hari belum lagi senja, mengapa riuh sudah terdengar? Syahbandar teriakkan aba, nahkoda belum turunkan layar Sauh belum terlempar Angin masih membawaku terbang Melintasi waktu, menjaring mimpi Aku belum letih Kerjap merah mengembara Dermaga menghampiri, datang dan pergi Namun kapal tak jua menepi Layar tetap terkembang, sauh tak terlempar Mimpi masih disana, jauh… Kuikuti ombak berayun Terombang-ambing Gelap terang Membuatku semakin kuat Written by SintesaFiles-2007