Postingan

Rumah yang Terabaikan

Sekian waktu berlalu. Sebuah perjalanan yang membuat aku mengabaikanmu. Rumahku, maafkan aku...., sepenggal tahun 2008 yang penuh perjuangan. Menyelesaikan yang semestinya diselesaikan. Menentukan arah perjalanan masa depan. Membuat keputusan yang semestinya diputuskan. Melewati ombak kehidupan. Sebuah perjuangan menegakkan eksistensi diri. Terjebak dalam psikosomatis yang sempat memperdayaku dalam kamar gelap. Self healing.....! Hingga berdiri digaris kehidupan yang sekarang diberikan Tuhan. Sebuah penerimaan tulus kupersembahkan pada Sang Pemilik Hidup. Dan aku ingin kembali pulang. Menghiasi rumahku yang selama ini terabaikan. Penjaga keseimbangan dalam langkah-langkah menuju masa depan. Selalu tersimpan rahasia indah yang diberikan-Nya padaku. Izinkan aku pulang. Aku ingin kembali pulang.

Sketsa Sindoro-Sumbing

Aku berada dihamparan lukisan indah dalam kanvas keabadian sang Pencipta. Kabut tiba-tiba datang diantara percintaanku dengan Sindoro - Sumbing. Menutup wajah yang telah bertopeng. Apakah aku masih mengenalmu? Engkau menyapaku melalui desau angin yang keras memanggil. Kupalingkan wajahku, namun yang kutemui topeng itu lagi. Kuputar bola mataku, dan kucari-cari dirimu. Yang terdengar hanya suara itu, sesaat datang dan menghilang. Tak lagi kutemui dirimu disana. Topeng itu telah menutupmu. Memisahkanmu dariku. Yang kulihat hanyalah hamparan tembakau yang menjanjikan rupiah dalam panen bulan Agustus nanti. Pak Tani tersenyum puas melihat bakal panen melimpah. Menunggu tengkulak datang dan berhitung keuntungan. Terbayang motor baru impian dalam genggaman. Belum hilang senyum mengembang, menghisap rokok bercampur kemenyan. Kulihat anak kecil menengadahkan wajah yang memerah. Dihadapannya setumpuk kayu bakar selesai dibelah. Tangannya menggenggam lintingan yang telah dibakar. Asap mengep...

KOPITARIUS

Aku adalah orang yang keras hati, tapi tak semua orang mau mengerti! Itulah bukti keegoisan hatiku! Satu hal yang sering kurenungkan dalam hati, bahwa ternyata tak semua orang berpikiran sama denganku. Inilah individual differences ! Sulit belajar memaklumi keterbatasan orang lain sekaligus menyadari kekurangan diri sendiri. Apakah selama ini aku masih terlalu berkutat dengan keakuan-ku? Kalau aku disebut orang yang keras hati, mungkin benar demikian adanya, setidaknya bagi sebagian orang yang berada dilingkungan dekatku kurasa akan mengangguk setuju. Sulit meluluhkan hatiku tanpa melalui adu kekuatan argumentasi. Hingga tadi pagi, ada dua orang itu mengungkapkan kalimat yang sama padaku, “Kamu harus meninggalkannya! Kamu harus menjauhinya!” Gubrak!!! Dunia serasa berhenti berputar membawa detik berhenti, langit terasa semakin dekat diatas kepalaku, perlahan namun pasti akan runtuh dan menguburku dalam puing-puing retak sebagai arwah penasaran yang akan menggerayangi mimpi-mimpi mala...

Berita dari Bontang (2)

Seminggu pertama dalam hutan ini telah terlewati, hidup di belantara Kalimantan dengan berbagai fasilitas yang tersedia untuk meredam segala kepenatan dan kebosanan. Dua hari pertama, aku tinggal sendiri dalam rumah yang diperuntukkan bagi staf perempuan, ternyata aku datang pada saat yang kurang tepat karena setiap akhir pekan mereka turun ke kota, pulang ke tempat sanak saudara atau sahabat di daerah sekitar Bontang dan Samarinda. Alhasil, jadilah aku penghuni satu-satunya di rumah kayu itu. Untung ada laptop dan ponsel, yang menyelamatkanku dari rasa sepi. Urusan tagihan telpon bulan depan yang pasti akan melonjak tak kupikirkan dulu sekarang ini. Gedebak-gedebuk suara monyet yang berlarian diatap rumah menemani sepiku. Berbagai fasilitas yang disediakan bagi seluruh penghuni kompleks ini terbilang lumayan, ada kantin yang menyediakan makan-minum dari breakfast, lunch hingga dinner, lapangan bulutangkis, fasilitas fitness, hingga jaringan wi-fi yang sayangnnya aku gak bisa akses kar...

Berita dari Bontang (1)

Pagi yang basah menyambutku di Balikpapan, penerbangan dari Jakarta terasa cukup menyenangkan, lamunanku terbang seiring perjalanan diatas awan. Pesawat GIA-510, aku berada di nomor kursi 16F, membuat mataku bebas terbang berjuang melawan paranoid-ku atas ketinggian. Pukul 9.20 saat aku tiba di Balikpapan pagi itu. Perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil Kijang Innova, menembus hutan Kalimantan menuju Bontang, kota yang menjadi tujuan perjalananku ini. Berbagai agenda personal yang dibawa teman seperjalanan membuat laju kendaraan tersendat, dan harus berhenti di beberapa tempat, dari pada doing nothing, aku sempat mampir di Sport Station, lumayanlah ada snakers vintage yang pas di kantong karena sepatu boot kesayanganku tertinggal di Jakarta. Melewati Bukit Suharto, menyeberangi Sungai Mahakam yang disampingnya sedang dibangun sebuah masjid yang luar biasa indah dimataku, deretan container di pinggiran dermaga, melintasi kebun raya Samarinda, dilanjutkan menembus hutan Gunung Simenang...
Just a little bit pressure on this month......wish me luck to walk into new sphere Only me...n finally, its all depend on myself. If I'm afraid, i could run away but where's my responsibility? I just say, I CAN DO IT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Hingga Tiba Saatnya

Tenggelam dalam rengkuhan sang bulan Senja bergerak mengayunkan malam Jelang fajar datang, embun menetes perlahan Meresap masuk dalam celah-celah bongkahan tanah retak Memberikan kesejukan pada dahaga yang tak kunjung hilang Mentari tersenyum menyambut Berjalan menemani langkah Hingga tiba saatnya senja datang Kembali mentari terbang Akankah kembali pulang?

Legundi

Gambar
Noktah hitam itu hampir tak terlihat dalam peta negeriku tercinta. Meski tak terlalu jauh jaraknya dari mereka yang mengaku sebagai pengemban peradaban dunia. Atau mungkin aku yang telah buta sekaligus tuli terkubur dalam tembok tinggi, tertimbun buku-buku tebal dan jurnal-jurnal yang serasa makin meracuniku dengan nafsu bertopengkan ilmu. Jarak sepelemparan batu dalam langkah-langkah hidupku, kutemukan teritori itu, hitam, keras dan panas. Sepenggal tanya merasuk dalam kepalaku, apakah ini sebuah episode hidup lain dari antah berantah yang biasa kubaca dalam artikel-artikel dunia maya? Senja itu datang, bergelayut muram dihadapanku. Bayang-bayang muram tersaji didepan mataku. Petak-petak kecil itu mengaku sebagai pintu penjemput untuk memasuki gerbang hidup kekal. Seperti anak kecil yang berbaris rapi, berderet menunggu pengadilan sejati. Lansekap hitam masuk, berjejalan, merasuk, berebut pijak dalam kornea mataku. Permadani hitam terhampar, sebatang pohon kecil berjuang untuk tumbuh ...

Sabang: Romantisme di Ujung Barat Indonesia

……berlayarlah di atasnya; berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerak-gerakkan bunga-bunga padma; berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya..... (Sapardi Djoko Damono) Bait diatas merupakan ungkapan kata yang menggambarkan perjalanan melintasi lautan menuju Sabang, sebuah kota terbesar di Pulau Weh. Pulau Weh merupakan pulau kecil di Laut Andaman, tepatnya arah barat laut pulau Sumatera. Pulau vulkanik aktif ini awalnya merupakan kesatuan dengan pulau Sumatera, namun akhirnya terpisah setelah erupsi terakhir pada zaman Plelistocene . Pulau Weh terkenal dengan keunikan ekosistemnya sehingga pada tahun 1982 ditetapkan sebagai salah satu kawasan cagar alam. Beberapa populasi khas daerah ini adalah hiu megamouth (mulut besar) dan katak Bufo valhallae yang terancam punah. Pulau ini secara geografis memiliki kontur bergunung-gunung, dengan luas wilayah 6000 hektar yang terdiri dari 3400 hektar daratan dan 2600 hektar lautan. Terdapat empat gugus kepulauan kecil yang mengelili...

Selamat Tahun Baru 2008

Selamat Tahun Baru 2008 Temukan kepingan-kepingan mozaik itu dan rangkaikanlah dengan mozaik-mozaik yang telah ada dalam genggamanmu. Pastikan bahagia akan tercipta, karena bahagia itu selalu hadir dalam hatimu dan menemani setiap pijak langkamu. Selamat Tahun Baru, Embun!!!!

Sang Waktu

Rumah pasir tepian pantai, kubangun pelan dengan tetesan peluh hingga debur ombak datang menerjangnya, luluh kembali menjadi hamparan pasir datar. Tersenyum engkau disampingku, datang menghampiri dan kau hapus peluhku pelan. Apakah engkau tak letih, Embun? Ucapmu sesaat padaku. Ah, bahkan aku sendiri terlalu angkuh untuk berkata iya, dan menyandarkan bahu letihku padamu. Aku telah belajar menggali sumur terdalam dihatiku, memasukkan segala peluh dan keluhku kedalamnya. Aku hanya sepenggal noktah kecil bernama kehidupan yang digenggamkan Tuhan kepadaku. Dan aku terus menapakkan langkah kaki selama tak ada tangan yang menggenggamku. Mengapa ada kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan? Siapa sejatinya yang paling setia menemani sang waktu? Apakah waktu itu benar-benar ada dan nyata? Ataukah sang waktu hanya sebuah simbol hasil konsensus masa Romawi Kuno? Untuk apa waktu dibuat jika hanya untuk meninggalkan. Untuk apa waktu dibuat jika hanya untuk memisahkan. Jangan lupa, Embun! Jangan ...

IRONI UNCCC 2007

Perjalanan melintas jarak, ruang dan waktu Bersandar aku disini Menapakkan pijak rapuhnya, sesaat aku bertanya, negeri ini milik siapa? Gelak tawa anak-anak itu menenggelamkanku Bergandengan tangan bersama bercerita Tentang bumi yang tak lagi ramah Sementara di ujung sana Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya berbicara Hanya sebatas meja! Sebenarnya negeri ini milik siapa? Ketika kuayunkan langkahku kesana Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya malah sibuk berbelanja Atau memanjakan diri di spa Sebenarnya negeri ini milik siapa? Saat rakyatnya tak lagi bebas berkelana Saat yang tak berpunya tersingkir dari kasat mata Saat anak-anak tak bisa belajar dengan merdeka

Tiga Dermaga

Tiga dermaga tepian kanal Deretan kapal berlabuh pelan Hari belum lagi senja, mengapa riuh sudah terdengar? Syahbandar teriakkan aba, nahkoda belum turunkan layar Sauh belum terlempar Angin masih membawaku terbang Melintasi waktu, menjaring mimpi Aku belum letih Kerjap merah mengembara Dermaga menghampiri, datang dan pergi Namun kapal tak jua menepi Layar tetap terkembang, sauh tak terlempar Mimpi masih disana, jauh… Kuikuti ombak berayun Terombang-ambing Gelap terang Membuatku semakin kuat Written by SintesaFiles-2007

Saat Sahabat Pergi

Satu persatu sahabat pergi, mungkin karena memang telah tiba masanya, seperti halnya hari ini. Apakah memang mereka pergi? Kepergian hanya perubahan dimensi ruang, karena menurutku, senyatanya mereka tetap ada, hadir dan menempati penggalan ruang hidupku. Seperti hari ini, tidak bisa kubohongi hati kecilku, sedih tapi juga bahagia. Sedih karena secara dimensi ruang kita akan merenggang jarak. Bahagia karena dia akan menapaki episode kehidupan selanjutnya, merajut mimpi yang telah sekian lama dalam pelukan Tuhan. Kebersamaan dengannya memberikan warna baru bagiku, tentang perjuangan meraih mimpi. Biarkan mimpi tak selamanya menjadi mimpi. Belajar tentang bagaimana nrimo…..Belajar tentang berdamai dengan hati, berdamai dengan diri sendiri. Tapi kepergianmu dari dimensi ruangku saat ini menyeruakkan sepi. Hari ini engkau pergi, sepi menghampiri pelukaan, karena tanpamu, tak ada lagi teriakan-teriakan ditengah malam saat-saat kita menjadi seteru karena jagoan kita bertanding. Milan! Forza ...

RUANG

Manusia bisa bergerak jika terdapat jarak. Manusia dapat saling menyayangi bila terdapat ruang. Manusia memerlukan ruang untuk menghela nafas mengaliri denyut kehidupan dengan asupan oksigen. Manusia hidup memerlukan ruang sebagai media tumbuh dan berkembang menggapai aktualisasi diri. Kasih sayang mampu membawa dua orang berdekatan, namun jangan biarkan kasih sayang itu mencekikmu jadi ulurkanlah talinya. Ibarat kata yang terangkai begitu indahnya akan memiliki makna jika terdapat jeda yang bernama spasi. Jantung akan terengah-engah jika dipakai memompa kehidupan bagi dua nyawa. Sepasang paru-paru tak akan sempurna jika digunakan memompa oksigen bagi dua nyawa. Karena jiwa tak dapat tumbuh dengan semestinya jika harus terbagi, maka tak akan ada jiwa yang terbelah. Indah akan tercipta jika jiwa bersua dengan jiwa lain yang searah. Karena itu jangan lumpuhkan aku dengan bendera kasih sayang. Berjalan rapat tapi jangan dibebat. Jangan dibendung jika tak mau tersandung. Pegang tanganku ta...

Manusia, Energi dan Teknologi: Soulmate

Sekarang ini kita semakin dimabukkan dengan ketergantungan terhadap energi dan teknologi. Tiga minggu ini hidup tanpa ada laptop kesayangan yang selalu mengisi hari-hari, ibaratnya separuh nyawaku melayang, terbang ke ujung negeri tak bertuan. Curahan ide tulisan-tulisan liar hingga tuntutan tesis yang belum kunjung usai kutuntaskan terpaksa harus diendapkan karena masalah teknis itu. Harus gimana lagi, ketika laptop itu tanpa seijinku harus terbang ke Surabaya, karena disanalah vendor yang menangani sesuai selembar kertas yang mengaku bernama garansi. Tak tahu harus bagaimana ketika setiap kali kuhubungi selalu terdengar jawaban yang sama, "Ditunggu mbak, nanti dikabari......" Sampai kapan? Hingga tahun ini beranjak pergi? Memang kesabaran lagi diuji tapi akan lebih nyaman jika ada kepastian tanggal yangn bisa kupegang. menyebalkan, haruskan aku menulis di lembaran daun lontar yang kemudian bisa kulipat-lipat kecil menjadi flash disk yang dijamin antivirus dan tanpa perlu li...

Perang Tarif Antar Operator Seluler: Perjalanan Menuju Kematian?

Oleh: Anik S Handayani Telekomunikasi telah menjadi candu bagi masyarakat luas. Perkembangan globalisasi dunia mampu menipiskan bahkan meniadakan jarak geografis melalui media komunikasi virtual. Setiap manusia memerlukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tak mengherankan jika bisnis telekomunikasi berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini. Kondisi geografis Indonesia mendukung industri seluler berkembang pesat dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi mampu menggeser media komunikasi dari kebutuhan sekunder atau tersier menjadi kebutuhan primer. Lihat saja, jika dulu telepon seluler (ponsel) menjadi barang mewah konsumsi kelas menengah keatas, sekarang hampir seluruh elemen kelas masyarakat telah memiliki ponsel sebagai bagian dari kebutuhan dan gaya hidup. Tak peduli seorang pejabat negara, pengusaha, mahasiswa, pelajar hingga tukang sayur keliling hampir dapat dipastikan merupakan pengguna ponsel. Meski sama-sama m...

Terimakasih Bapak, Terimakasih Ibu

Ramadhan masih berada ditengah perjalanan, sepuluh hari pertama telah terlampaui, begitu cepat waktu berlalu meninggalkanku. Kenapa waktu berlalu? Apakah waktu itu ada ataukah sekedar hitung-hitungan matematis hasil indoktrinasi yang kita terima sejak masih kecil? Ah, aku sedang tak mau berpikir tentang hal itu. Yang jelas pagi tadi, aku melihat lelaki itu berjalan menyusuri jalan utama kota ini. Mengenakan kaos kuning yang telah lusuh dan celana panjang hitam yang tak rapi. Aku menebak lelaki itu berusia empat puluhan tahun, entah benar atau tidak atau mungkin lebih muda dari itu. Lagi….lagi… berbicara tentang umur berarti berbicara tentang dimensi waktu, siapa yang membuat satuan waktu detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun? Semua itu rekayasa! Kembali tentang lelaki itu, berjalan sedikit cepat melintas dihadapanku. Dibahunya terdapat pikulan penyeimbang dengan beban di kiri-kanan, berjalan melintas ditengah deru kendaraan lalu lalang yang semakin padat dan menyesakkan. Dua...

Kisah Perempuan Tak Bernama

Seorang anak manusia tak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi pengajuan proposal mengenai ras, garis muka, warna kulit ataupun jenis rambut, semuanya telah diberikan begitu agung oleh Yang Maha Kuasa. Setelah anak itu lahir, kemudian yang beruntung akan tumbuh dan berkembang dalam balutan kasih sayang ataupun yang termarjinalkan karena ketidakberdayaan orang tua dan orang-orang sekitarnya. Sebagian meyakini itu sebagai garis nasib yang harus dijalani sang anak dalam berproses. Hasil akhir proses itu? Wallahuallam! Bertahun-tahun yang lalu, seorang anak manusia lahir, disebuah desa dibelahan pantura, Pantai Utara Jawa. Diantara tanah kering yang memerah dan tandus. Diantara desau anyir angin laut. Diantara gesekan daun-daun karet yang berjajar rapi di Kerkhoff. Diantara jejeran nisan kumpeni yang meninggalkan jejak kemegahan masa lalu. Tonggak kehidupan hedonisme telah terpancang kuat. Terlahir dalam jerat kemiskinan, tak pernah sekalipun diharapkannya. "Namun, hidup mesti teru...

Ketika Kasih Sayang Dipertanyakan

PULANG Namanya Clara, usianya menginjak dua puluh tujuh tahun, sepertiga hidupnya telah dihabiskan di kota Madrid ini. Clara mewarisi bakat menari dari darah neneknya, Raden Ayu Sukmowati, penari handal dari Kraton Surakartahadiningrat. Bertahun-tahun meninggalkan tanah kelahiran demi rasa cintanya pada budaya yang hampir punah dinegeri sendiri. Sekarang ini Clara merasa sudah saatnya pulang. Tuhan menentukan langkahnya dengan caraNya sendiri. Pelan ditekannya nomor yang sudah dihafalnya diluar kepala. Meskipun rasanya sudah lama sekali dia tidak menekan nomor ini, sekarang rasanya lain, ada euforia yang bercampur duka. Kerinduannya pada tanah air, bapak-ibu dan seorang adik yang telah lama ditinggalkannya. “Halo”, sebuah suara terdengar jauh, bergetar pelan dalam hati Clara. “Halo, Bapak. Ini Clara, saya mau pulang ke Indonesia, Pak” ungkap Clara pada Bapak. “Wah, benar, Nak? Senangnya mendengar keputusanmu itu, kapan rencanamu Ndhuk?” tanya Bapak. “Dua ming...