Postingan

Perang Tarif Antar Operator Seluler: Perjalanan Menuju Kematian?

Oleh: Anik S Handayani Telekomunikasi telah menjadi candu bagi masyarakat luas. Perkembangan globalisasi dunia mampu menipiskan bahkan meniadakan jarak geografis melalui media komunikasi virtual. Setiap manusia memerlukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tak mengherankan jika bisnis telekomunikasi berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini. Kondisi geografis Indonesia mendukung industri seluler berkembang pesat dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi mampu menggeser media komunikasi dari kebutuhan sekunder atau tersier menjadi kebutuhan primer. Lihat saja, jika dulu telepon seluler (ponsel) menjadi barang mewah konsumsi kelas menengah keatas, sekarang hampir seluruh elemen kelas masyarakat telah memiliki ponsel sebagai bagian dari kebutuhan dan gaya hidup. Tak peduli seorang pejabat negara, pengusaha, mahasiswa, pelajar hingga tukang sayur keliling hampir dapat dipastikan merupakan pengguna ponsel. Meski sama-sama m...

Terimakasih Bapak, Terimakasih Ibu

Ramadhan masih berada ditengah perjalanan, sepuluh hari pertama telah terlampaui, begitu cepat waktu berlalu meninggalkanku. Kenapa waktu berlalu? Apakah waktu itu ada ataukah sekedar hitung-hitungan matematis hasil indoktrinasi yang kita terima sejak masih kecil? Ah, aku sedang tak mau berpikir tentang hal itu. Yang jelas pagi tadi, aku melihat lelaki itu berjalan menyusuri jalan utama kota ini. Mengenakan kaos kuning yang telah lusuh dan celana panjang hitam yang tak rapi. Aku menebak lelaki itu berusia empat puluhan tahun, entah benar atau tidak atau mungkin lebih muda dari itu. Lagi….lagi… berbicara tentang umur berarti berbicara tentang dimensi waktu, siapa yang membuat satuan waktu detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun? Semua itu rekayasa! Kembali tentang lelaki itu, berjalan sedikit cepat melintas dihadapanku. Dibahunya terdapat pikulan penyeimbang dengan beban di kiri-kanan, berjalan melintas ditengah deru kendaraan lalu lalang yang semakin padat dan menyesakkan. Dua...

Kisah Perempuan Tak Bernama

Seorang anak manusia tak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi pengajuan proposal mengenai ras, garis muka, warna kulit ataupun jenis rambut, semuanya telah diberikan begitu agung oleh Yang Maha Kuasa. Setelah anak itu lahir, kemudian yang beruntung akan tumbuh dan berkembang dalam balutan kasih sayang ataupun yang termarjinalkan karena ketidakberdayaan orang tua dan orang-orang sekitarnya. Sebagian meyakini itu sebagai garis nasib yang harus dijalani sang anak dalam berproses. Hasil akhir proses itu? Wallahuallam! Bertahun-tahun yang lalu, seorang anak manusia lahir, disebuah desa dibelahan pantura, Pantai Utara Jawa. Diantara tanah kering yang memerah dan tandus. Diantara desau anyir angin laut. Diantara gesekan daun-daun karet yang berjajar rapi di Kerkhoff. Diantara jejeran nisan kumpeni yang meninggalkan jejak kemegahan masa lalu. Tonggak kehidupan hedonisme telah terpancang kuat. Terlahir dalam jerat kemiskinan, tak pernah sekalipun diharapkannya. "Namun, hidup mesti teru...

Ketika Kasih Sayang Dipertanyakan

PULANG Namanya Clara, usianya menginjak dua puluh tujuh tahun, sepertiga hidupnya telah dihabiskan di kota Madrid ini. Clara mewarisi bakat menari dari darah neneknya, Raden Ayu Sukmowati, penari handal dari Kraton Surakartahadiningrat. Bertahun-tahun meninggalkan tanah kelahiran demi rasa cintanya pada budaya yang hampir punah dinegeri sendiri. Sekarang ini Clara merasa sudah saatnya pulang. Tuhan menentukan langkahnya dengan caraNya sendiri. Pelan ditekannya nomor yang sudah dihafalnya diluar kepala. Meskipun rasanya sudah lama sekali dia tidak menekan nomor ini, sekarang rasanya lain, ada euforia yang bercampur duka. Kerinduannya pada tanah air, bapak-ibu dan seorang adik yang telah lama ditinggalkannya. “Halo”, sebuah suara terdengar jauh, bergetar pelan dalam hati Clara. “Halo, Bapak. Ini Clara, saya mau pulang ke Indonesia, Pak” ungkap Clara pada Bapak. “Wah, benar, Nak? Senangnya mendengar keputusanmu itu, kapan rencanamu Ndhuk?” tanya Bapak. “Dua ming...

MENCARI KEBAHAGIAAN

Apakah Engkau Sudah Bahagia? Selamat pagi, Embun? Apa kabarmu saat ini? Senang atau sedih, penuh harapan atau emptiness ? Apakah engkau masih mencari bahagia, Sayang? Bahagia tak mestinya harus dicari, karena bahagia itu ada dalam hati, bagaimana kita menyikapi setiap mozaik hidup kita ini menjadi elemen-elemen kebahagiaan yang dapat membangun energi positif bagi diri kita. Sulit ya? Ah, ataukah engkau sudah terjangkiti affluenza ? Masak kau bilang nggak mengerti apa itu affluenza ? Banyak-banyak membaca ya, Embun! Waduh jangan marah dong, aku khan cuma sekedar mengingatkan mumpung engkau masih muda dan sebelum kita menginjakkan kaki di Kye Gompa (wah tak pernah disangka jika kita memiliki mimpi yang sama dengan penulis buku tetralogi favorit kita itu!). Oya kembali lagi ke affluenza ya, itu berasal dari gabungan kata affluence dan influenza , merupakan virus yang menyerang jiwa untuk terus lebih mencapai kesuksesan dan kekayaan, kadang juga diterjemahkan sebagai keinginan selalu m...

Cerita Tentang Paku dan Kayu

Pagi ini aku termenung.....didepanku terdapat laptop dan ponsel yang selalu setia menemaniku. Sesaat teringat beberapa pesan singkat yang baru saja kuterima dan kukirimkan pada seorang teman. Jika aku memiliki sebuah kayu dan beberapa paku, kayu itu terlihat bersih tak ada goresan dikulitnya. Kemudian aku ambil paku dan kutancapkan pada kayu itu. Paku yang tertancap pada kayu dapat kucabut menggunakan tang, berhasil! Kemudian paku-paku itu kutancapkan lagi di beberapa bagian lain dari kayu itu, beberapa tempat sengaja kupilih, beberapa tempat lainnya asal aja. Kemudian dengan menggunakan tang kembali kucabuti paku-paku itu, ada yang susah namun ada juga yang dengan mudah kucabut. Setelah selesai semua kuperhatikan kembali kayu itu, sudah bersih tanpa ada lagi paku yang tertancap padanya, namun saat kuperhatikan lebih seksama lagi, banyak sekali luka-luka bekas paku yang tadi kutancapkan dengan sengaja ataupun asal tadi. Luka-luka itu tersebar di sekujur badan kayu, menganga, mungkin ak...

Terimakasih Ramadhan

Detik begitu cepat berlalu, tanpa kusadari langkahku telah dihadapkan pada Ramadhan yang baru. Terimakasih Tuhan, Engkau anugerahkan waktu kepadaku untuk menyelami cintaMu yang telah sekian lama kuabaikan. Kerinduanku kepadaMu yang selama ini terasa semakin kosong terbelenggu rutinitas yang kudewakan. Dalam pijak rapuhku, dalam kesendirianku, dalam diamku, dalam tangisku, dalam kesombonganku, dalam senyumku, dalam langkah yang menjauh dariMu. Semakin kuyakini arti hadirMu. Terimalah diriku dalam pelukanMu, ampuni salah dan khilafku. Berikan cahaya cinta dan damai-Mu kepadaku. Diriku hanya titian kecil yang belajar tentang hidup. Memaknai mozaik-mozaik berserakan dalam kehidupan yang Engkau anugerahkan kepadaku. Terangilah cahaya kehidupanku. Saat tak ada kesetiaan yang tersisa selain kuberpaling padaMu. Hanya kepadaMu aku berserah diri dan hanya kepadaMu aku kembali.